cerita sex sedarah Kenikmatan Tak Ternilai

cerita sex sedarah Kenikmatan Tak Ternilai , Cerita Dewasa Tante cerita sex sedarah , Cerita Mesum Smp cerita sex sedarah ,berikut adalah Foto Bugil Artis cerita sex sedarah , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 cerita sex sedarah dibawah

 

cerita sex sedarah Kenikmatan Tak Ternilai

Kenikmatan Tak Ternilai cerita sex sedarah ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Kenikmatan Tak Ternilai DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita cerita sex sedarah Kenikmatan Tak Ternilai berikut ini

cerita-sex-sedarah-kenikmatan-tak-ternilai

Kenikmatan Tak Ternilai – Nama saya Kartìka, usìa 25 tahun dengan tìnggì 168 cm, berat 53 kg, aslì orang Bandung, kulìt putìh bersìh. Ukuran payudara saya yang 34C termasuk lumayan besar untuk gadìs seusìa saya. Pekerjaan saya adalah sebagaì manager operasìonal dì sebuah perusahaan terkenal dì daerah saya. Saya ìngìn mengeluarkan gelìsah hatì yang saya pendam selama ìnì, mudah-mudahan saya bìsa berbagì dengan pembaca sekalìan.

Saya dì kantor mempunyaì sahabat yang namanya Levana, serìng saya panggìl Ana. Orangya supel, dan mudah bergaul, tìnggìnya 172 cm/53 kg, dengan kulìt putìh mulus, maklum orang Menado aslì, 34B ukuran payudaranya. Saya mempunyaì kelaìnan ìnì sejak masìh gadìs pada saat tìnggal bersama kakak saya, Mbak Ernì namanya.

Kapan-kapan saya cerìtakan sejarah lesbìan saya, tapì saya juga suka cowok lho sama sepertì gadìs-gadìs laìn. Hanya saja hampìr tujuh puluh persen saya menyenangì cewek, saya tìdak mengertì mengapa saya begìnì, mungkìn suatu saat saya bìsa sembuh total ya?! Saya serìng jalan bersama Ana kalau ada undangan karena saya belum ada pasangan, banyak sìh cowok yang naksìr, cuma saya masìh enggan saja untuk berpacaran. Saya ìngat betul awalnya yaìtu pada saat bulan Agustus 2004, sehabìs pulang kantor.

*****

“Ka, sìnì sebentar” panggìl Ana pada saya sambìl mendekatkan Mercynya.
“Ada apa Na?” tanya saya heran pada Ana.
“Boleh nggak mìnta tolong?”
“Tolong apa?”
“ìtu lho, rumah saya khan sedang dìrenovasì..”
“Terus?”
“Mmh, boleh numpang ngìnep nggak dì rumahmu?” tanya Ana ragu-ragu.
“Alaa, gìtu saja nanya, boleh dong, sekarang?”
“ìya, boleh khan?” tanya Ana sekalì lagì meyakìnkan dìrìnya sendìrì.
“Udah, nggak usah banyak omong, ayo jalan” perìntah saya sambìl tersenyum.
“Okey, trìm’s ya”

cerita sex sedarah Kenikmatan Tak Ternilai – Maka setelah Ana mengambìl baju sekedarnya, kamì berdua meluncur ke rumah saya yang memang agak jauh darì kantor. Rumah saya mempunyaì empat kamar, satu kamar untuk tamu dan kamar saya dì tengah, saya tìnggal sendìrì karena orang tua saya tìnggal dì Surabaya.

“Na, ìnì kamarmu ya” kata saya sambìl menunjukkan sebuah kamar padanya dì ujung depan.
“Trìm’s ya” jawabnya sambìl masuk melìhat-lìhat kamar.
“Kutìnggal dulu”
“Ya..” jawabnya sambìl lalu.

Saya kemudìan menuju kamar untuk mandì dan bergantì baju, soalnya gerah sejak tadì. Sedang asyìk-asyìknya saya memìlìh BH, tìba-tìba Ana masuk ke kamar.

“Eh.. Maaf ka, lagì pake baju ya?” katanya kaget melìhatku masìh memakaì celana dalam berwarna merah dan belum mengenakan BH sama sekalì.
“Oh Ana, masuk Na, nggak apa-apa kok” jawab saya sambìl tersenyum melìhatnya yang masìh memandangì payudara saya yang termasuk besar dan montok.
“Wah, badanmu seksì juga ya?” ujarnya.
“Tentu saja, habìs saya rajìn senam sìch”
“Oh ya, ada fìlm bagus nìch, nonton yuk” ajak Ana sambìl menggandeng saya untuk menonton TV dì ruang tengah.
“Bentar Na, kugantì baju dulu ya” jawabku sambìl memakaì BH dan kaos longgar serta celana pendek.
“Kutunggu ya..”
“Ya”. Kemudìan Levana sudah duduk dì depan TV sambìl makan camìlan, sedang saya masìh sìbuk membereskan baju yang berserakan.

Malam ìtu Ana mengenakan daster kunìng hìngga kelìhatan kulìt lengannya yang putìh mulus, kadang-kadang karena duduk kamì yang mepet, Ana dengan tak sengaja menyenggol payudara saya hìngga perasaan saya jadì bertambah aneh. Mungkìn karena acara TV yang membosankan, saya jadì tak tertarìk lagì, saya lebìh tertarìk memperhatìkan Ana saja. Ternyata Ana yang memakaì daster ìtu, sudah tìdak memakaì BH lagì hìngga tonjolan payudaranya kelìhatan mencuat ke atas, mungkìn karena kamì sama-sama perempuan, jadì Ana tìdak malu-malu lagì, bahkan kadang-kadang kakìnya dìnaìkkan ke meja hìngga bawahan dasternya jadì tersìngkap dan memperlìhatkan celana dalamnya yang berwarna putìh.

Perasaan saya jadì laìn hìngga saya memutuskan untuk ke kamar dan bergantì baju dengan daster tanpa memakaì BH dan celana dalam juga, supaya bertambah nyaman kalau berdekatan dengan Levana. Sungguh Levana ìtu gadìs yang cantìk sepertì artìs mandarìn. Saya kembalì ke ruang tamu dan membawa kaset DVD untuk saya tonton bersama Ana, sìapa tahu saja Levana tertarìk dengan fìlmnya dan ìngìn mmh..

“Na, gantì ama DVD ya?”
“Fìlm apaan tuch?”
“ìnì, fìlm romantìs darì Jepang, pengìn lìat nggak?”
“Ya, bolehlah, abìs acaranya nggak ada yang menarìk sìch”
“Okey, duduk dekat sìnì” pìnta saya pada Ana untuk duduk dì sofa agar nyaman menonton fìlm ìtu.

Sebetulnya sìch, ìtu fìlm trìple X darì jepang mengenaì seorang gadìs yang mencìntaì guru wanìtanya lalu mereka bersetubuh dan bercìnta dengan gaya yang romantìs dengan berbagaì macam gaya. Volume TV dan AC saya perbesar hìngga Ana mendekat dan mepet dengan saya. Untung rumah sudah sepì karena pembantu sudah pulang semua dan lagì rumah saya besar, jadì volume suara TV yang besar ìtu tìdak kedengaran lagì darì luar.

“Fìlm BF ya?” tanya Ana tanpa menoleh pada saya.
“Tapì bagus lho, untuk pelajaran sex”
“Bagus, sìch bagus, tapì saya jadì pengìn nìch” gumam Ana tak jelas karena napasnya yang makìn berat dan dìselìngì suara orang bercìnta darì TV yang makìn kencang.
“Gìmana kalau kupegang payudaramu” usulku.
“Hush, ngaco kamu Tìka, kìta ìnì sama-sama cewek tau” jawabnya sambìl monyong, namun ìtu justru menambah gaìrah saya semakìn tìnggì.
“Darìpada kamu megang sendìrì, hayoo” jawab saya tak mau kalah sambìl meraba payudaranya.
“Jangan, Tìka.. Jangan..” terìaknya keras karena kaget payudaranya saya pegang. Namun terìakannya tak membuat saya jera, bahkan telìnganya yang sensìtìf saya cìum dengan lembut.
“Kurang ajar kamu, sst..” tolaknya lemah dengan mendesìs.
“Mmh..”

Nah itulah awalan Kenikmatan Tak Ternilai cerita sex sedarah ,untuk selengkapnya cerita bokep cerita sex sedarah Baca Selengkapnya , baca Kenikmatan Tak Ternilai terbaru bizzar.biz

cerita sex sedarah Kenikmatan Tak Ternilai

Incoming search terms:

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.