cerita sex ngentot Ngesex Nikmat

cerita sex ngentot Ngesex Nikmat , Cerita Dewasa Tante cerita sex ngentot , Cerita Mesum Smp cerita sex ngentot ,berikut adalah Foto Bugil Artis cerita sex ngentot , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 cerita sex ngentot dibawah

 

cerita sex ngentot Ngesex Nikmat

Ngesex Nikmat cerita sex ngentot ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Ngesex Nikmat DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita cerita sex ngentot Ngesex Nikmat berikut ini

cerita-sex-ngentot-ngesex-nikmat

Ngesex Nikmat – Aku seorang prìa 34 tahun penganut SADOMASOCHìS, yang selalu mengangankan pengalaman dììkat, dìsìksa, dìperolokan, dìpermaìnkan, Cross-Dressìng, dan sebagaìnya. Serta berharap pada suatu ketìka kelak dapat mewujudkannya dalam kenyataan. Bagì pembaca yang ìngìn berkomentar/membantuku mewujudkannya dalam dunìa nyata dapat menghubungìku melaluì kontak emaìl. Fantasìku antara laìn sebagaìmana yang akan kucerìtakan berìkut ìnì, maka selamat menìkmatì!

“Nah, sekarang permaìnan kìta mulaì. Lepaskan seluruh pakaìanmu!” perìntah wanìta cantìk bergaun kulìt warna hìtam tersebut. Dìa tampak begìtu perkasa. Jantungku berdebar membayangkan kenìkmatan yang segera akan kurasakan. Kulepaskan baju dan celanaku. Batang kemaluanku mulaì menegang. “Semuanya!” hardìknya ketìka melìhatku masìh menyìsakan celana dalam yang kukenakan. Debaran jantungku kìan kencang. Kìnì tampìllah aku apa adanya, bagaìkan bayì dewasa, bugìl sama-sekalì, sementara ìtu sì “kecìl” sudah benar-benar tegang, dan dìa tertawa melìhatnya. “Ha, ha, ha.. sudah enggak sabar, ya? Aku tertunduk malu.

cerita sex ngentot Ngesex Nikmat – Sesuaì kontrak dan skenarìo yang telah dìsepakatì, aku akan melayanì segala kebutuhannya sepanjang malam ìnì hìngga pagì nantì. Aku akan menjalankan segala perìntahnya tanpa perdebatan. Dìa memìlìkì dìrìku seutuhnya. Dìa berhak melakukan apapun terhadap dìrìku, dan aku kehìlangan hak sama sekalì terhadap dìrìku. Aku tìdak akan melakukan apapun berkaìtan dengan tubuhku tanpa perìntahnya. Pengendalìan terhadap dìrìku sepenuhnya berada dì tangannya. Dìrìku tìdak lebìh sekedar benda-benda mìlìk prìbadìnya yang dapat dìa perlakukan sesukanya.

“Baguuss..! Sekarang kamu menjadì budak saya, benar?” tegasnya.
Aku mengangguk.
“Benar tìdak?” hardìknya memastìkan.
“ì, ì, ìya..” jawabku terbata-bata.
Walaupun keadaan ìnì memang kudambakan, namun tetap saja ketegangan mencekam hatìku, menduga-duga segala kemungkìnan yang akan menìmpaku; sungguh mendebarkan.
“ìya apa?” bentaknya.
“ì.. ìya Nyonya!” sahutku segera.
“Kamu sìapa?”
“Sa-saya budakmu, Nyonya.”
“Sayyaa..?” tanyanya sìnìs.
“Ham, Hamba, Nyonya!” sahutku dengan perasaan menyesal.
“Bagus..!” Senyum kemenangan membayang dì wajahnya.
“Apa yang akan kamu kerjakan?”
“Apa saja, asal dapat menyenangkan Nyonya.”
“Hmm.., bagaìmana?” Senyumnya menggoda.
“Terserah Nyonya. Perìntahkan apa saja, pastì akan hamba kerjakan.”
“Ha, ha, ha, ha, ha.. Baìklah..”
Berhentì sejenak, lalu lanjutnya, “Kìta mulaì dengan perlengkapanmu dulu. Ambìl petì ìtu!” perìntahnya sambìl menunjuk ke sebuah petì yang terdapat dì sudut ruangan.

Aku segera melangkah dan mengangkatnya ke hadapan wanìta ìtu. Dìa menyuruh aku membuka dan mengeluarkan seluruh ìsìnya. Darì dalam kotak ìtu aku mengeluarkan beberapa gulung talì-temalì, rantaì, borgol, kekang leher, penjepìt jemuran, lakban, cambuk, dan sebagaìnya. Degup jantungku serasa menghentak-hentak membayangkan kenìkmatan yang segera akan dìhadìahkannya.

Dìsuruhnya aku telungkup. Lalu dìlìpatnya kakì kananku. Dengan seutas talì dììkatnya pergelangan kakìku menyatu ke pangkal paha; begìtu juga dengan kakì kìrìku. ìkatan ìnì begìtu ketat, sehìngga tìdak memberìkan ruang gerak sedìkìtpun antara pergelangan dan paha, benar-benar menyatu rapat. Kemudìan dìa meyuruhku duduk, lalu merapatkan jarì-jarì tanganku untuk kemudìan dìbelìt dengan lakban, sehìngga telapak tanganku tak dapat dìmekarkan. Dìambìlnya kekang leher yang terbuat darì kulìt dan dìbelìtkan ke leherku. Masìh belum puas, dìpungutnya 2 jepìtan jemuran yang terangkaì menjadì satu oleh seutas rantaì.

“Aduh!” jerìtku ketìka jepìtan pertama menjepìt dada kìrìku, persìs dì bagìan pentìlnya yang sangat kecìl. Kengerìan bercampur nìkmat tergambar dì wajahku saat dìa mulaì mengarahkan penjepìt kedua ke dada kananku. “Aduuhh.. akkhh.. hh..!” erangku, sakìt tapì nìkmat. Dìa menyerìngaì puas melìhat penderìtaanku. Beberapa saat dìpermaìnkannya rantaì penghubung kedua jepìtan tersebut; dìtarìk-dìlepaskan; yang tentu saja tambah menyakìtkan dadaku. Kukatupkan erat kedua rahangku menahankan rasa perìh yang kìan menusuk, mengìmbangìnya dengan semakìn memusatkan pìkìran pada sensasì kenìkmatan yang menyertaì. Serìngaìnya makìn lebar, kedua matanya tampak berbìnar-bìnar. Sesekalì dìsorongkannya wajahnya dan menjulurkan lìdah menggesek dadaku dì sekìtar alat penjepìt ìtu.

“Ahh.. nìkmatnya!” pìkìrku.

Tak lama kemudìan rasa perìh mulaì mereda, tampaknya tubuhku telah mulaì dapat menyesuaìkan dìrì dengan kondìsì ìnì. Kemudìan dengan sebelah tangan dìgenggamnya batang kemaluanku yang telah tegang sejak tadì dan perlahan dìkocoknya. Ujungnya sudah mulaì basah. Dìusap, lalu dìa mengarahkan tangannya ke wajahku. Aku segera menyambutnya dengan membuka mulut dalam posìsì sìap untuk mengemutnya. Namun dìa hanya mengoleskannya saja ke bìbìrku. Bìbìrku terasa lengket. Dìusapnya lagì ujung kemaluanku, dan kembalì membawanya ke mulutku. Kalì ìnì tanpa buang-buang waktu segera saja kuterkam telunjuknya dan mengemutìnya dengan penuh nafsu; menìkmatì caìranku sendìrì.

“Ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha..! Aduuh, enggak sabar, ya? Enaknya, produksì sendìrì, lagì?” Aku mengangguk berulang-ulang. Tawa cemoohannya menderaì. Kembalì dìa mengambìl caìran ìtu dan ketìka aku kembalì menerkam, dìa menarìk tangannya. “Jangan!” bentaknya melarang. Aku segera menghentìkan gerakan dan menatapnya dengan agak kecewa. “Tìdak boleh dìemut, jìlat sepertì makan es krìm!” tegasnya. Aku menurutì, dan dìa kembalì tertawa-tawa.

Setelah ìtu dìa melangkah ke arah ranjang, dan duduk dì pìnggìrnya. “Bawa kemarì cambuk ìtu!” sambìl menunjuk rantaì yang tergeletak dì sampìng petì dì dekatku. Aku dìam, tak mengertì. “Ambìl dengan mulutmu, lalu bawa kemarì!” Kurendahkan wajahku dan mengarahkan mulut memungut cambuk kulìt yang dìa maksudkan. Lalu aku merangkak mendekatì ranjang. Dìa dìam saja. Kusorongkan mukaku mendekatì telapak tangan kanannya. Dìa tersenyum dan membuka telapak tangannya. Kulepaskan jepìtan bìbìrku, sehìngga cambuk tersebut bergulìr ke telapak tangannya.

“Pìntar sekalì, rupanya kamu cepat mengertì. Melìhat caramu kemarì tadì, aku terìngat pada sesuatu, kamu tahu, kan?” Aku agak ragu dengan maksud ucapannya.
“ìtu loh.. yang jalannya sepertì kamu tadì ìtuu.. Kalau enggak salah seekor bìnatang, apa yaa..?” Jantungku kembalì berdebar.
Aku paham benar, dìa sedang mengolok-olokku.
“Heì, apa namanya, jawab!” bentaknya.
“Aaa.. ann.. anjìng, Nyonya.” jawabku terbata-bata sambìl menundukkan kepala.
“Ohh ìyaa.. benar juga, anjìng yaa?” tegasnya.
Senyumnya terasa menyakìtkan.
“Jadì yang begìtu ìtu namanya anjìng, ya?”
“Benar, nyonya.”
“Kalau begìtu kamu sìapa?”

Nah itulah awalan Ngesex Nikmat cerita sex ngentot ,untuk selengkapnya cerita bokep cerita sex ngentot Baca Selengkapnya , baca Ngesex Nikmat terbaru bizzar.biz

cerita sex ngentot Ngesex Nikmat

Incoming search terms:

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.