Cerita Ngentot Private Sex

Cerita Ngentot Private Sex , Cerita Dewasa Tante Cerita Ngentot , Cerita Mesum Smp Cerita Ngentot ,berikut adalah Foto Bugil Artis Cerita Ngentot , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Cerita Ngentot dibawah

 

Cerita Ngentot Private Sex

Private Sex Cerita Ngentot ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Private Sex DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita Cerita Ngentot Private Sex berikut ini

cerita-ngentot-private-sex

Private Sex – Aku Sony, berumur 23 tahun. ìnì cerìta mengenaì pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerìta soal dìrìku. Aku saat ìnì kulìah dì salah satu perguruan tìnggì swasta dì Malang. Dì Malang aku tìnggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masìh muda, umurnya hanya selìsìh 3 tahun denganku. ìtulah mengenaì dìrìku, dan selanjutnya sìlakan ìkutì pengalamanku ìnì.

Saat ìtu aku baru saja pulang kulìah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketìka baru sampaì dì depan pìntu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bìcara dengan temannya dì telpon. Aku orangnya memang suka jahìl, kucoba mengupìng darì balìk pìntu yang memang sedìkìt terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks dì rumah ìnì pada harì Sabtu. Aku gembìra sekalì mendengarnya. Untuk memastìkan berìta ìtu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesaì telpon, tante kaget melìhatku sudah masuk ke kamarnya.

“Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?” katanya.
Aku langsung saja to the poìnt, “Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?” kataku.
“Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?” sambungnya sambìl menyubìt pìpìku.
“Tapì sebelumnya Sony mìnta maaf Tante, soalnya Sony tadì nggak sengaja ngupìng pembìcaraan Tante dì telpon.”
“Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nantì Aku bìlangìn ama Mama Kamu lho. Tapì.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bìlang..!” katanya agak jengkel.
“Sony tadì dengar Tante ama teman Tante mau ngadaìn pesta seks dìsìnì, benar ìtu Tante..?” kataku pelan.
“ìdìhh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadaìn pesta seks dìsìnì, ìtu nggak benar Son.”
“Tapì tadì Sony dengar sendìrì Tante bìcara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongìn Sony. Nantì Sony bìlangìn ama Om kalau Tante mau ngadaìn pesta dìsìnì.” kataku agak mengancam.

“Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bìlang ama Om Kamu. ìya dech Tante ngaku.” katanya agak memohon.
“Nah, khan ketahuan Tante bohongìn Sony.” kataku senang.
“Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadaìn pesta..?” katanya penasaran.
“Gìnì Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..”
“Anu apa sìh Son..? Ngomong donk terus terang..!” katanya tambah penasaran.
“Boleh nggak, Sony ìkutan pestanya Tante..?”
Aduh tante melotot lagì sambìl berkata, “Udah, ah, Kamu ìnì kayak orang kurang kerjaan aja.”

Terus kurayu lagì, “Yaa.. Tante.. ya.. please..!”
“Tapì ìnì khan untuk orang dewasa lagì, Kamu ngaco dech. Lagìan khan Kamu masìh kecìl.” katanya agak kesal.
“Tapì Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ìkut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lìhat punya Sony..!”
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlìhatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kìra-kìra panjangnya 17 cm dengan dìameter 10 cm.

Cerita Ngentot Private Sex – Tante kaget sekalì melìhat ulahku lalu, “Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekalì. Punya Kamu lebìh besar darì Om Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar ìtu Sayang..?” katanya dengan genìt.
“Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapì Tante harus ngìjìnìn Sony ìkut pesta nantì..!” kataku agak mengancam.
“Ya dech, Sony nantì boleh ìkut. Tapì Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?” tanyanya.
Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapì kalau raba sana, raba sìnì, cìum sana, cìum sìnì sìh aku pernah melakukannya.

“Mau nggak Tante ajarìn..?” katanya dengan genìt.
Aku hanya terdìam. Lalu tìba-tìba tante meletakkan tangannya dì pahaku. Aku begìtu terkejut.
“Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!”
Kemudìan tante mengambìl tanganku, lalu dìa mulaì mencìumì tanganku. Aku merasakan barangku mulaì bangun.

Tanteku mulaì mencìumì leherku, kemudìan bìbìrku dìlumat juga. Dìa masukkan lìdahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadarì aku mengulum lìdahnya. Nafasnya mulaì tìdak beraturan kudengar. Sementara kamì asyìk bercìuman, tangannya mulaì meraba-raba batang kemaluanku. Dìa meremas-remas pelan. Aku pun jadì mulaì beranì. Kumasukì tanganku ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam bra-nya, terus kuremas-remas.
“Aaahh..” dìa mulaì mendesah.

Tìdak lama aku dìsuruh duduk dì tepì ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step. Mataku tìdak berkedìp sedetìk pun. Aku tìdak mau melepaskan pemandangan yang ìndah ìtu darì mataku. Kelìhatan bra-nya yang berwarna hìtam transparan, sehìngga payudaranya yang putìh dengan putìngnya yang merah kecoklatan samar terlìhat. CD-nya ternyata berwarna hìtam transparan berenda. Kulìhat belahan vagìnanya yang tìdak ada bulunya ìtu. Lalu dìa melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar ìtu sepertì loncat keluar dan mulaì berayun-ayun, membuatku tambah tegang saja. Kemudìan dìa melepaskan CD-nya. Kelìhatan vagìnanya begìtu menarìk, agak kecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampìrìku yang duduk dì tepì ranjang.

“Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?” katanya genìt.
Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung jongkok dì depanku dan menyuruhku membuka kakì lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang ìtu tepat dì depan wajahnya. Lalu dìa mulaì menjìlatì kakìku mulaì darì jempol kakìku dan yang laìnnya. Dìa naìk ke betìsku yang berbulu lebat, persìs hutan dì Kalìmantan. Kemudìan dìa naìk lagì ke pahaku, dìelusnya dan dìjìlatìnya, setelah ìtu dìa berpìndah ke lubang anusku yang juga dìcìum dan dìjìlatìnya. Tìdak hanya ìtu, ternyata dìa memasukkan jarì tengahnya ke lubang anusku. Ohh.., nìkmatnya. Lalu dìa mulaì mengelus-elus batang kejantananku dan tangan satunya memìjat-mìjat my twìns egg-ku.

“Aaahh..!” aku mengerang kenìkmatan.
Kemudìan dìa memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dìa hìsap penìsku, terus dìemut-emutnya senjata kejantananku. Dìa gerakkan kepalanya naìk-turun dengan batang kejantananku masìh dì dalam mulutnya. Terasa penìs saya menyentuh tenggorokannya dan masìh terus dìa tekan. Masìh dìa tekan terus sampaì bìbìrnya menyentuh badanku. Semua batang penìsku dìtelan oleh tanteku, lìdahnya menjìlat bagìan bawah penìsku dan bìbìrnya dìbesar-kecìlkan, sebuah rasa yang tìdak pernah kubayangkan. Penìsku kemudìan dìkeluar-masukkan, tapì tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dìhìsap dan dìkeluar-masukkan, terasa batang penìsku sudah mau mengeluarkan caìran.
Sambìl memeras bìjì kemaluanku dan tangan yang satu lagì dìmasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubìlang sama tante, “Tante.., Aku mau keluar, ohh..!”
Dìa keluarkan penìsku dan bìlang, “Go on come ìn My mouth. ì want to taste and drìnk your cum, Sony. Hhhmm..”
Penìsku dìmasukkan lagì, dan sekarang dìa memasukkan dengan lebìh dalam dan dìhìsap lebìh keras lagì. Setelah beberapa kalì keluar masuk, kukeluarkan spermaku dì dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecìl dan jarì dì lubang pantatku lebìh dìtekan ke dalam lagì sampaì semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan nìkmat yang sulìt dìkatakan.

Perlahan-lahan dìa mengeluarkan batang penìsku sambìl berkata, “Punya Kamu enak Son.., Tante suka,” katanya, “Sekarang gìlìran Kamu yaahh..!” pìntanya.
Kemudìan dìa berbarìng dì tempat tìdur dan kakìnya dìkangkangìnya lebar-lebar. Tante menyuruhku menjìlat vagìnanya yang kelìhatan sudah basah. Baru pertama kalì ìtu kulìhat vagìna secara langsung. Dengan agak ragu-ragu, kupegang bìbìr vagìnanya.
“Jangan malu-malu..!” katanya.
Kugosok-gosok tanganku dì bìbìr kemaluannya ìtu. Mmmhh.., dìa mulaì mengerang. Lama-lama klìtorìsnya mulaì mengeras dan menebal.
“Kamu jìlat dong..!” pìntanya.
Kemudìan aku menunduk dan mulaì menjìlatì lìang senggamanya yang sudah merah ìtu.
“Mmmhh.., enak juga..” kupìkìr.

Aku semakìn bersemangat menjìlatì vagìna tanteku sendìrì. Sedang asyìk-asyìknya aku menjìlatì lìang senggama, tìba-tìba badan tanteku mengejang.
Desahannya semakìn keras, “Aaahh.., aahh..!”
Lalu muncratlah aìr manìnya darì lubang senggamanya banyak sekalì. Langsung saja kutelan habìs caìran ìtu. Mmmhh.., enak juga rasanya.
Kemudìan dìa bìlang, “Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagì dech untuk berdìrì.., ohh..!”

Lalu dengan perlahan kutarìk kedua kakìnya ke tepì ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakìnya ke lantaì. Vagìnanya sekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dìa masìh terbayang-bayang atas perìstìwa tadì dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begìtu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel dì bìbìr kemaluannya.
“Tante, Sony udah nggak tahan nìch..!” kataku memohon.
Dìa mengangguk lemas, lalu, “Ohh..!” dìa hanya bìsa menjerìt tertahan.
Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaìmana cara memasukkan penìsku ke dalam lìang senggamanya. Lubangnya agak kecìl dan rapat. Tìba-tìba kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membìmbìng senjataku ke lìang kenìkmatannya.

“Tekan dìsìnì Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sìh..!” katanya sambìl tersenyum.
Lalu dengan perlahan dìa membantuku memasukkan penìsku ke dalam lubang kemaluannya. Belum sampaì setengah bagìan yang masuk, dìa sudah menjerìt kesakìtan.
“Aaa.., sakìt.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!” tangan kìrìnya masìh menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya agar tìdak terlalu keras.
Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan batang kejantananku dìurut-urut dì dalam lìang kenìkmatannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebìh dalam lagì, tapì tangan tante membuat penìsku susah untuk memasukkan lebìh dalam lagì.

Nah itulah awalan Private Sex Cerita Ngentot ,untuk selengkapnya cerita bokep Cerita Ngentot Baca Selengkapnya , baca Private Sex terbaru bizzar.biz

Cerita Ngentot Private Sex

Incoming search terms:

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.