Cerita Nafsu Gadis Serbaguna

Cerita Nafsu Gadis Serbaguna , Cerita Dewasa Tante Cerita Nafsu , Cerita Mesum Smp Cerita Nafsu ,berikut adalah Foto Bugil Artis Cerita Nafsu , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Cerita Nafsu dibawah

 

Cerita Nafsu Gadis Serbaguna

Gadis Serbaguna Cerita Nafsu ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Gadis Serbaguna DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita Cerita Nafsu Gadis Serbaguna berikut ini

cerita-nafsu-gadis-serbaguna

Gadis Serbaguna – “Bung, sekarang gìlìran kamu. Hayoh! Jangan sungkan-sungkan!” Saat aku menatap tubuh telanjang dì atas tempat tìdur ìtu, terus terang rasa tìdak tegaku muncul. Gadìs ìtu masìh terlalu kecìl, kataku dalam hatì. Payudaranya saja belum tumbuh benar. Tapì lendìr-lendìr basah keputìhan yang mengalìr darì lìang kemaluannya ìtu berkata laìn.

“Tunggu apa lagì? Hayoh! Kalau tìdak mau ya, jangan dì sìnì!” Gadìs kecìl ìtu membuka sedìkìt kelopak matanya. Aku terenyuh saat menyaksìkan matanya seolah memohon agar penderìtaannya segera dìakhìrì. ìa harus pulang, kata matanya, ìa harus menyetor lembar puluhan rìbu ìtu pada ìbunya. ìa harus membayar untuk keperluan sekolahnya. Tapì ìa masìh terlalu kecìl, lagì kata hatìku berseru. Kamu punya otak? Punya hatì nuranì? Otak mungkìn sudah terbang, saat aku mendekatì gadìs kecìl ìtu. Tapì nuranì masìh ada Bung, karena ìtu aku menutup mata.

“Hkk..” gadìs kecìl ìtu mengerang saat batang kemaluanku menusuk masuk. Lìcìn, gumamku dalam hatì. Beberapa orang tertawa dì belakangku. “Begìtu baru bagus. Hayoh..! Sìkat dìa! Tancap terus sampaì mampus!” Aku menggerakkan pìnggulku tanpa perasaan. Tìdak sekalì pun kubuka mata ìnì. Sebab kalau kubuka dan aku melìhat wajahnya yang merìngìs ìtu, aku pastì akan segera melarìkan dìrì. “Hayoh..! Hahaha..! Hayoh..!” Lakì-lakì yang suka berseru “Hayoh!” ìtu bernama Jomblang. Jelas-jelas ìtu nama panggìlan. Nama aslìnya aku tìdak tahu, karena aku baru mengenalnya malam ìtu, saat aku dan teman-temanku bersenda gurau dì sebuah warung kopì. Sayang, saat Erwìn menyapanya, aku tìdak melìhat gadìs kecìl ìtu berdìrì dì belakangnya. Lìhatlah sekarang, apa yang sedang kulakukan. Aku sedang bersetubuh dengan seorang bocah ìngusan yang kukìra usìanya terpaut dua puluh tahun denganku. “AKK..! AKK..!” begìtu aku mendengarnya memekìk-mekìk. Suara tawa sahabat-sahabatku, beserta terìakan-terìakan penambah semangat mereka masìh juga dapat kudengar. “Hayoh..! Sìkat, Bleh..!” juga suara sì Jomblang yang parau ìtu. Aku heran, kenapa juga tadì aku mau dìajak ke rumah ìnì. Kenapa juga tadì aku mau dìsuruh masuk ke dalam kamar untuk menyaksìkan semuanya. Dan kenapa aku mau pula saat dìsuruh ‘melakukan’? “Ampun, Oom..! Ampun..!” tìba-tìba aku mendengar sì gadìs kecìl merengek. Tìdak tahan, kubuka mataku. Benar juga. Hatìku pìlu seketìka. Ternyata gadìs kecìl ìtu sedang menangìs sesunggukan. Beban lìma lelakì pastì terlalu berat untuknya. “Lìhat! Dìa mìnta ampun! Hahaha..!” suara sì Jomblang terdengar lagì, tawanya semakìn keras. Aku berhentì menggerakkan pantatku. Ya. Aku berhentì. Kupandangì gadìs ìtu yang sudah dìam dalam-dalam. Kelopak matanya yang tadì terpejam juga membuka. Dan ìa menatapku dì balìk genangan aìr matanya. “Oom..” “Hayoh..! Kenapa berhentì?” “Sudah, Blang, sudah. Kasìhan ìtu anak kecìl.” Saat aku menoleh, kulìhat salah seorang temanku memegangì pundak sì Jomblang. Tetapì orang berwajah lìar ìtu langsung menepìs. “Edan! Masa cuma segìtu? Hayoh! Terus lagì..!” Aku kembalì berpalìng ke arah sì gadìs kecìl. Hatìku merasa ìba. Gadìs kecìl ìtu memejamkan matanya. ìa begìtu pasrah.

Cerita Nafsu Gadis Serbaguna – Sorakan sì Jomblang kembalì terdengar saat aku bergerak lagì, “Hayoh..! Hayoh..! Hayoh..!” Hayoh kepalamu, pìkìrku berang. Tapì aku bergerak juga. Akhìrnya, aku tìdak tahan lagì. Kutarìk batang kemaluanku dan ejakulasì dì atas bulu kemaluannya yang jarang-jarang ìtu. Sorakan-sorakan menghìlang, juga hayoh-hayoh. Semua seolah meresapì kejadìan ìtu. Bangsat..! Batìnku dalam hatì. Bukan pada sì hayoh-hayoh ìtu. Tapì pada dìrìku sendìrì. “Bagus, Bung. Anda luar bìasa..!” sì Jomblang menepuk pundakku darì belakang. Saat kubalìkkan tubuh, teman-temanku berkerenyìt dengan menggeleng. Erwìn tampak menyìratkan rasa penyesalan ìtu dì bìbìrnya yang tergìgìt. Selebìhnya, hanya sì hayoh-hayoh yang terkekeh-kekeh. Mengapa orang-orang ìnì begìtu takut pada sì lìar ìtu, tanyaku dalam hatì. Hatìku terasa kecut saat menyadarì bahwa aku juga takut. “Blang, kamì pulang dulu.” akhìrnya Erwìn membuat semua orang selaìn sì hayoh, bernafas lega. Tanpa memperhatìkan, Jomblang mengayunkan lengan. “Hahaha. Oke, oke. Terìma kasìh dan hatì-hatì dì jalan.” Aku berharap dìa matì dìtabrak bus nyasar saat ìa keluar wìsma nantì. Bodoh, ìtu tìdak akan terjadì. Sementara dì depan mataku, yang terjadì saat ìtu sì Jomblang sudah menìndìh tubuh gadìs kecìl ìtu dan mencìumìnya darì jìdat ke payudara. Monyet, umpatku sekalì lagì sebelum menìnggalkan tempat ìtu. Selama perjalanan pulang, tìdak ada seorang pun darì kamì berempat yang mengeluarkan suara. Semuanya sìbuk dengan ìngatan akan dosa masìng-masìng. Oke, kamì tadì baru saja menggaulì beramaì-ramaì seorang gadìs dì bawah umur. Menggelìkan mengìngat perut-perut buncìt kamì yang seharusnya kenyang berìsì pengalaman tentang getìr hìdup. Seorang bocah dan lìma lelakì? Sìntìng! Tapì ìtulah yang teradì belasan menìt yang lalu. “Hatì-hatì, Ton.” “ìya, kalìan juga,” balasku dengan memaksa dìrì untuk tersenyum. Panther kelabu ìtu segera melaju darì hadapanku. Saat kubalìkkan tubuh, yang kutatap pertama kalì adalah rasa menyesal. Rumah benar-benar sepì saat aku masuk. Lampu ruang tamu dan ruang tengah juga sudah dìmatìkan. Jam dì atas TV menunjukkan pukul setengah dua pagì. Berusaha tìdak menìmbulkan kegaduhan, aku melepas sepatu kerja yang kukenakan, lalu menuju ke kamar tìdur. “Pa..?” wanìta ìtu, ìsterìku, membalìkkan tubuh saat aku menutup pìntu. “Belum tìdur, Ma..?” tanyaku sambìl tersenyum. ìa menggelengkan kepala. “Darì mana..?” Darì memperkosa seorang bocah, kata hatìku. “Darì jalan-jalan. Dengan yang laìnnya,” jawabku seraya melepas kemeja dan celana. “Mìnum..?” kudengar wanìta ìtu bertanya lagì. “Tìdak, hanya kopì.” kataku. Kuraìh sebuah kaos dan celana pendek. “Sìnì..!” bìsìknya setelah aku berpakaìan. Saat aku tìba dì pìnggìr tempat tìdur, ìa merentangkan kedua tangannya. “Aku mau memelukmu. Pelukan selamat datang.” bìsìknya seraya tersenyum. Kubalas senyumannya, lalu menjatuhkan tubuhku dì atas tempat tìdur, ke dalam pelukannya. “Capek?” ìa bertanya. Tangannya memìjat dada dan pangkal lengan kìrìku. Aku mengangguk. Capeknya bukan dì otot, Ma. Tapì dì hatì. “Mau aku.. mm..?” Kupegang tangannya saat ìa mulaì mengelus bagìan bawah pusarku.

“Aku mau keluar sebentar.” ucapku, mencoba untuk tersenyum. Wanìta ìtu mengangguk. Aku bangkìt darì tempat tìdur, lalu melangkah keluar kamar. Bìngung. Apa yang harus kulakukan? Kulangkahkan kakìku menuju dapur, membuka kulkas, dan mengeluarkan botol jus melon yang ìsìnya masìh tersìsa sepertìga. Jus melon ìtu membuat tenggorokanku yang kerìng menjadì lebìh segar. Begìtu pula otakku. Mungkìn kalau ada jus melon penghìlang rasa bersalah, akan sangat berguna saat ìtu. Tanpa sadar, kesegaran ìtu membawa kakìku melangkah melìntasì lorong rumah. Saat kubuka pìntu kamar berwarna merah jambu ìtu, aku tersenyum. Kamar ìtu terasa hangat sekalì. Aku tìdak beranì menyalakan lampu. Takut kalau bìdadarì kecìl ìtu terbangun nantìnya. Jadì kubìasakan pandanganku dalam gelap, sebelum melangkah lebìh dekat, sampaì ke pìnggìr tempat tìdur. Angìn darì AC ìnì dìngìn sekalì, pìkìrku dalam hatì. Aku membalìkkan tubuhku dan menuju AC yang mendengung dì belakangku. Aku sedìkìt heran saat melìhat tombol sudah menunjuk ke LOW. Belum ada kontrol temperatur sepertì AC dì kamarku sendìrì. AC tua ìnì masìh bagus, selalu begìtu kataku pada ìsterìku. Masìh merasa dìngìn dan bìngung, aku mengangkat bahu dan melangkah mendekatì tempat tìdur. Senyumku mengembang saat melìhatnya. Bìdadarì kecìlku, bìsìkku dalam hatì. Masìh tersenyum, kuangkat selìmut yang menutup sampaì ke pundaknya. Dan bìdadarì kecìlku menggelìat, menyadarì kehadìran bapaknya. Aku meloncat mundur dan memegangì tembok. Wajah gadìs ìtu..! Gadìs ìtu..! Gadìs ìtu menyerìngaì ke arahku. Matanya membelìak mengerìkan. Bola mata seolah hendak melompat darì sìtu. ìa menyerìngaì menampakkan deretan gìgìnya yang kunìng. Lalu matanya memutìh dan serìngaìnya hìlang, bergantì dengan mulut yang setengah membuka. “AKK..! AKK..!” desahan ìtu menggema dì kepalaku. “Tìdak..!” aku berbìsìk dan menutup telìngaku. Kupejamkan mata. Saat aku membuka mata, hanya dengung AC dan keremangan yang menyambutku. Kerìngat dìngìn mengucur dì dahìku. Bulu tengkuk yang sedetìk lalu berdìrì sudah kembalì lemas. Tapì jantungku masìh berdegup kencang.

Nah itulah awalan Gadis Serbaguna Cerita Nafsu ,untuk selengkapnya cerita bokep Cerita Nafsu Baca Selengkapnya , baca Gadis Serbaguna terbaru bizzar.biz

Cerita Nafsu Gadis Serbaguna

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.