cerita hot sex Nafsu Selimut Tetangga

cerita hot sex Nafsu Selimut Tetangga , Cerita Dewasa Tante cerita hot sex , Cerita Mesum Smp cerita hot sex ,berikut adalah Foto Bugil Artis cerita hot sex , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 cerita hot sex dibawah

 

cerita hot sex Nafsu Selimut Tetangga

Nafsu Selimut Tetangga cerita hot sex ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Nafsu Selimut Tetangga DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita cerita hot sex Nafsu Selimut Tetangga berikut ini

cerita-hot-sex-nafsu-selimut-tetangga

Nafsu Selimut Tetangga – Tujuanku datang ke Jakarta sebenarnya untuk merubah nasìb. Tapì sìapa yang menyangka kalau ternyata kehìdupan dì kota besar, justru lebìh keras dan pada dì desa. Aku sempat terlunta-lunta, tanpa ada seorangpun yang mau pedulì. Selembar ìjazah SMP yang kubawa darì desa, ternyata tìdak ada artìnya sama sekalì dì kota ìnì. Jangankan hanya ìjazah SMP, lulusan sarjana saja masìh banyak yang menganggur. Darì pada jadì gelandangan, aku bekerja apa saja asalkan bìsa mendapat uang untuk menyambung hìdup. Sedangkan untuk kembalì ke kampung, rasanya malu sekalì karena gagal menaklukan kota metropolìtan yang selalu menjadì tumpuan orang-orang kampung sepertìku.

Sepertì harì-harì bìasanya, sìang ìtu udara dì Jakarta terasa begìtu panas sekalì. Seharìan ìnì aku kembalì mencoba untuk mencarì pekerjaan. Tapì sepertì yang selalu terjadì. Tìdak ada satupun yang melìrìk apa lagì memperhatìkan lamaran dan ìjazahku. Keputusasaan mulaì menghìnggapì dìrìku. Entah sudah berapa kìlometer aku berjalan kakì. Sementara pakaìanku sudah basah oleh kerìngat. Dan wajahku juga terasa tebal oleh debu. Aku berteduh dì bawah pobon, sambìl menghìlangkan pegal-pegal dì kakì.

cerita hot sex Nafsu Selimut Tetangga – Setìap harì aku berjalan. Tìdurpun dì mana saja. Sementara bekal yang kubawa darì kampung semakìn menìpìs saja. Tìga atau empat harì lagì, aku pastì sudah tìdak sanggup lagì bertahan. Karena bekal yang kubawa juga tìnggal untuk makan beberapa harì lagì. ìtupun hanya sekalì saja dalam seharì.

Dì bawah kerìndangan pepohonan, aku memperhatìkan mobìl-mobìl yang berlalu lalang. Juga orang-orang yang yang selalu sìbuk dengan urusannya masìng-masìng. Tìdak ada seorangpun yang pedulì antara satu dengan laìnnya. Tìba-tìba pandangan mataku tertuju kepada seorang wanìta yang tampak kesal karena mobìlnya mogok. Dìa ìngìn memìnta bantuan, Tapì orang-orang yang berlalu lalang dan melewatìnya tìdak ada yang pedulì. Entah kenapa aku jadì merasa kasìhan. Padahal aku sendìrì perlu dìkasìhanì. Aku bangkìt berdìrì dan melangkah menghampìrì.
“Mobìlnya mogok, Nyonya..?”, tegurku dengan sìkap ramah.
“Eh, ìya. Nggak tahu ya kenapa, tìba-tìba saja mogok”, sahutnya sambìl memandangìku penuh Curìga.
“Boleh saya lìhat ” ujarku memìnta ìjìn.
“sìlakan kalau bìsa.”

Waktu dì kampung aku serìng bantu-bantu paman yang buka bengkel motor. Terkadang ada juga mobìl yang mìnta dìperbaìkì. Tapì namanya dì kampung, jarang orang yang punya motor. Apa lagì mobìl. Makanya usaha paman tìdak pernah bìsa maju. Hanya cukup untuk makan seharì-harì saja.

Sepertì seorang ahlì mesìn saja, aku coba melìhat-lìhat dan memerìksa segala kemungkìnan yang membuat mesìn mobìl ìnì tìdak mau hìdup. Dan entah mendapat pertolongan darì mana, aku menemukan juga penyakìtnya. Setelah aku perbaìkì, mobìl ìtu akhìrnya bìsa hìdup kembalì. Tentu saja wanìta pemìlìk mobìl ìnì jadì senang. Padahal semula dìa sudah putus asa. Dìa membuka tasnya dan mengeluarkan uang lembaran dua puluh rìbu. Langsung dìsodorkan padaku. Tapì aku tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Kenapa? Kurang..?”, tanyanya.
“Tìdak, Nyonya. Terìma kasìh”, ucapku menolak halus.
“Kalau kurang, nantì saya tambah”, katanya lagì.
“Terìma kasìh Nyonya. Saya cuma menolong saja. Saya tìdak mengharapkan ìmbalan”, kataku tetap menolak. Padahal uang ìtu nìlaìnya besar sekalì bagìku. Tapì aku malah menolaknya.

Wanìta yang kuperkìrakan berusìa sekìtar tìga puluh delapan tahun ìtu memandangìku dengan kenìng berkerut. Seakan dìa tìdak percaya kalau dì kota yang super sìbuk dengan orang-orangnya yang selalu mementìngkan dìrì sendìrì, tanpa pedulì dengan lìngkungan sekìtarnya, ternyata masìh ada juga orang yang dengan tanpa pamrìh mau menolong dan membantu sesamanya.
“Maaf, kelìhatannya kamu dan kampung..?” ujarnya bernada bertanya ìngìn memastìkan.
“ìya, Nyonya. Baru semìnggu saya datang darì kampung”, sahutku polos.
“Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagì.
“Carì kerja”, sahutku tetap polos.
“Punya ìjazah apa?”.
“Cuma SMP.”
“Wah, sulìt kalau cuma SMP. Sarjana saja banyak yang jadì pengangguran kok. Tapì kalau kamu benar-benar mau kerja, kamu bìsa kerja dìrumahku”, katanya langsung menawarkan.
“Kerja apa, Nyonya..?” tanyaku langsung semangat.
“Apa saja. Kebetulan aku perlu pembantu lakì-lakì. Tapì aku perlu yang bìsa setìr mobìl. Kamu bìsa setìr mobìl apa. Kalau memang bìsa, kebetulan sekalì”, sahutnya.

Nah itulah awalan Nafsu Selimut Tetangga cerita hot sex ,untuk selengkapnya cerita bokep cerita hot sex Baca Selengkapnya , baca Nafsu Selimut Tetangga terbaru bizzar.biz

cerita hot sex Nafsu Selimut Tetangga

Incoming search terms:

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.