Cerita Dewasa Dasar Maniak Selingkuh

Cerita Dewasa Cerita Dewasa Sex, Cerita Dewasa Dasar Maniak Selingkuh Foto – Foto Bugil Terbaru, dan Bokep.3gp/mp4 dan masih banyak yang lainya dalam kesempatan ini bizzar.biz akan membagikan sebuah cerita terbarunya Cerita Dewasa Dasar Maniak Selingkuh

Cerita Dewasa Dasar Maniak Selingkuh

cerita-dewasa-dasar-maniak-selingkuhCerita Dewasa – Cērita ini bērawal dari pulang kēmalaman sēorang sēkrētaris kawan sēkantor di bagian lain, namanya Vivi bērpostur sintal kulit putih dan tinggi badan yang sēdang- sēdang saja sēkitar 165 cm. sēsungguhnya Vivi bukanlah tipē orang yang ramah walaupun dia sēorang sēkrētaris, mungkin gara-gara om- nyalah dia ada di posisi tērsēbut. Oh ya, Vivi juga sudah mēnikah kira- kira satu sētēngah tahun yang lalu, dan saya pērnah bēbērapa kali kētēmu suaminya. ***** Pagi itu pada waktu jam masuk kantor aku bērpapasan nya di pintu masuk, sēpērti biasa kita saling tērsēnyum dan mēngucapkan sēlamat pagi. Ah lucu juga kita yang sudah kēnal satu tahun masih mēlakukan kēbiasaan sēpērti itu, sēsungguhnya untuk hitungan waktu sēlama tiga tahun kita harus lēbih akrab dari itu, tapi mau bagaimana lagi gara-gara Vivi orangnya mēmang sēpērti itu jadi akupun tērbawa- bawa, aku sēndiri mēnanya-tanya apakah sifatnya yang sēpērti itu cuma untuk mēnjaga jarak manusia di lingkungan kērja atau mēmang dia punya pēmbawaan sēpērti itu sējak lahir. Mungkin waktu itu aku sēdang kētiban mujur, tēpat di pintu masuk ēntah apa pēnyēbabnya tiba-tiba saja Vivi sēpērti akan tērjatuh dan rēflēks aku mēraih tubuhnya maksud untuk mēnahan supaya dia tidak bētul-bētul tērjatuh, tapi tanpa sēngaja tanganku mēnyēntuh sēsuatu di bagian dwujudnya. sēsudah dapat bērdiri amat tērprēdiksi Vivi mēmandang kē arahku sambil tērsēnyum, ya ampun bērbasickanku itu ialah sēsuatu yang istimēwa mēngingat sifatnya yang kukētahui sēlama ini.

“Tērima kasih Pak Nēndi, hampir saja aku tērjatuh.” “Oh, nggak apa-apa, maaf barusan tidak sēngaja.” “Tidak apa-apa.” Sēpērti itulah dialog yang tērjadi pagi itu. Walaupun nggak mau mikirin tērus kējadian tērsēbut tapi aku tētap mērasa kurang ēnak gara-gara tēlah mēnyēntuh sēsuatu pada tubuhnya walaupun nggak sēngaja, waktu kutēngok kē arah mēja kērjanya mēlalui kaca pintu ruanganku dia juga kēlihatannya kēpikiran kējadian tērsēbut, untung waktu masuk kērja masih ēmpat puluh lima mēnit lagi jadi bēlum ada orang, sēandainya pada waktu itu sudah banyak orang mungkin dia sēlain mērasa kagēt juga akan mērasa malu. Aku kēmbali mēlakukan rutinitas kēsēharian mēnggēluti angka-angka yang yang nggak ada ujungnya. Sudah kēbiasaanku sētiap tiga puluh mēnit mēmandang gambar panorama yang kutēmpēl dikaca pintu ruanganku untuk mēnghindari kēcapēkan pada mata, tapi tērbukti ada sēsuatu yang lain di sēbērang pintu ruanganku pada hari itu, aku mēlihat Vivi sēdang mēmandang kē arah yang sama sēhingga mēlihat mata kami bērtēmu. Lagi, dia tērsēnyum kēarahku, aku justru jadi mēnanya- tanya ada apa gērangan cēwēk itu, aku yang gēēr atau mēmang dia jadi lain hari ini, ah mungkin cuma pikiranku saja yang ngēlantur.

Jam istirahat makan sēpērti biasa sēluruh orang ngumpul di ēDR untuk makan siang, dan suatu nasib baik lagi waktu nyari tēmpat duduk tērbukti kursi yang kosong ada di Dibagian Vivi, akhirnya aku duduk disana dan mēnyantap makanan yang sudah kuambil. sēsudah sēlēsai makan, kēbiasaan kami bērcakap-cakap ngalor-ngidul sambil mēnanti waktu istirahat habis, gara-gara aku duduk diDibagian dia jadi aku bērcakap-cakap sama dia, sēsungguhnya yg tērlēbih dahulu aku malēs bērcakap-cakap sama dia. “Gimana kabar suamimu Vi?” aku mēmulai pērbincangan “Baik pak.” “Trus gimana kērjaannya? Masih di tēmpat yang dulu?” “Sēkarang sēdang mēnēruskan studi di Amērika, baru bērangkat satu bulan yang lalu.” “Oh bēgitu, baru tahu aku.” “ingin lēbih pintar katanya pak.” “Ya baguslah kalau bēgitu, kan nantinya juga untuk masa dēpan bērdua.” “iya pak.” sēsudah jam istirahat habis sēluruh kēmbali kē ruangan masing-masing untuk mēnēruskan kērjaan yang tadi tērhēnti. Akupun kēmbali hanyut kērjaanku. Pukul sētēngah 7 aku bērmaksud bērēs-bērēs gara-gara pēnat juga kērja tērus, tanpa sēngaja aku nēngok kē arah pintu ruanganku tērbukti Vivi masih ada di mējanya. sēsudah sēluruh bērēs akupun kēluar dari ruangan dan bērmaksud untuk pulang, aku mēlēwati mējanya dan isēng aku nyapa dia.

“Kok tumbēn hari gini masih bēlum pulang?” “iya pak, ini baru mau pulang, baru bērēs, banyak kērjaan hari ini” Aku mērasakan stylē bicaranya lain hari ini, tidak sēpērti hari-hari yg tērlēbih dahulu yang kalau bicara sēnantiasa kēdēngaran rēsmi, yang mēnimbulkan rasa tidak akrab. “Ya udah kalo bēgitu kita barēng aja.” ajakku mēmpromosikan. “Tidak usah pak, biar aku pulang sēndiri saja.” “Nggak apa-apa, ayo kita barēng, ini udah tērlalu malam.” “Baik Pak kalau bēgitu.” Sambil bērjalan mēnuju tēmpat parkir kēmbali kutawarkan jasa yang walaupun sēsungguhnya niatnya cuma isēng saja. “Gimana kalo Vivi barēng aku, kita kan sēarah.”

“Nggak usah pak, biar aku pakai angkutan umum atau taksi saja.” “Lho, jangan gitu, ini udah malēm, nggak baik wanita jalan sēndiri malēm-malēm.” “Baik kalau bēgitu pak.” Di sēpanjang jalan yang dilalui kami tidak banyak bicara sampai akhirnya aku pērhatikan dia agak lain, dia kēlihatan murung, mēngapa ini cēwēk. “Lho kok kēlihatannya murung, mēngapa?” tanyaku pēnasaran. “Nggak apa-apa pak.” “Nggak apa-apa kok ngēlamun bēgitu, pērlu kawan buat bērcakap-cakap?” tanyaku mēmancing. “Nggak ah pak, malu.”

“Kok malu sih, nggak apa-apa kok, bērcakap-cakap aja aku dēngērin, kalo bisa dan pērlu mungkin aku akan bantu.” “Susah mulainya pak, soalnya ini tērlalu pribadi.” “Oh bēgitu, ya kalo nggak mau ya nggak usah, aku nggak akan maksa.” “Tapi sēsungguhnya mēmang aku pērlu orang untuk kawan bērcakap-cakap tēntang masalah ini.” “Ya udah kalo bēgitu obrolin aja sama aku, rahasia dijamin kok.” “ini soal suami aku pak.” “Ada apa suaminya?” “itu yang bikin aku malu untuk mēnēruskannya.” “Nggak usah malu, kan udah aku bilang dijamin kērahasiaannya kalo Vivi bērcakap-cakap kē aku.” “Anu, aku sēring baca buku-buku mēngēnai jalinan suami istri.” “Trus mēngapa?” “Aku baca, akhir dari jalinan badan antara suami istri yang bagus ialah orgasmē yang dialami olēh kē-2nya.” “Trus lētak pērsoalannya dimana?” “Mēngēnai orgasmē, aku sampai waktu ini aku cuma sēmpat mēmbacanya tanpa pērnah mērasakannya.” Aku sama sēkali nggak pērnah mēlakukan dugaan kalo pēmbicaraannya akan mēmbidik kēsana, dalam hati aku mēmbatin, masa sih kawin satu sētēngah tahun sama sēkali bēlum pērnah mēngalami orgasmē? (timbul niatku untuk bēramal) “Masa sih Vi, apa bētul kamu bēlum pērnah mērasakan orgasmē sēpērti yang barusan kamu bilang?” “Bētul pak, nasib baik aku bērcakap-cakapin masalah ini bapak, jadi sētidaknya bapak bisa mēmbēri masukan gara-gara mungkin ini ialah masalah laki-laki.” “Ya, gimana ya, sēkarang kan suami Vivi lagi nggak ada, sēmēstinya waktu suami Vivi ada barēngan pērgi kē ahlinya untuk konsultasi masalah itu” “Pērnah bēbērapa kali aku ajak suami aku, tapi mēnangkis dan akhirnya kalau aku singgung masalah itu cuma mēnimbulkan pērsēlisihan diantara kami.” Tanpa tērasa jam sudah tunjukkan pukul 8 malam, dan tanpa tērasa pula kami sudah sampai didēpan rumah Vivi, aku bērmaksud mēngantar dia sampai dēpan pintu rumahnya. “Tidak usah pak, biar sampai sini saja.” “Nggak apa-apa, takut ada apa-apa biar aku antar sampai dēpan pintu.” basic, kakiku mēnginjak sēsuatu yang lēmbēk ditanah dan hampir saja Tērgēlincir gara-gara pēnērangan di dēpan rumahnya agak kurang. sēsudah sampai di tēras rumahnya kulihat kakiku, tērbukti yang kunjak tadi ialah sēsuatu yang kurang ēnak untuk disēbutkan, sampai- sampai sēpatuku Dibagian kiri hampir sētēngahnya kēna. “Aduh Pak Nēndi, gimana dong itu kakinya.” “Nggak apa-apa, nanti aku cuci kalo udah nyampē rumah.” “Dicuci disini aja pak, nanti nggak ēnak sēpanjang jalan kēcium baunya.” “Ya udah, kalo bēgitu aku ikut kē toilēt.” sēsudah mēmbērsihkan kaki aku dipērliahkan duduk di ruang tamunya, dan tērbukti disana sudah mēnanti sēgēlas kopi hangat. Sambil mēnanti kakiku kēring kami bērbincang lagi. “Oh ya Vi, mēngēnai yang kamu cēritakan tadi di jalan, gimana cara kamu mēngatasinya?” “Aku sēndiri bingung Pak harus bagaimana.” Mēndēngar jawaban sēpērti itu dalam otakku timbul pikiran kotor lēlaki. “Gimana kalau bēsok-bēsok aku kasih apa yang kamu pēngēn?” “Yang aku mau yang mana pak.” “Lho, itu yang sēpanjang jalan kamu bilang bēlum pērnah ngalamin.” “Ah bapak bisa aja.” “Bēnēr kok, aku bērsēdia ngasih itu kē kamu.” Tērmēnung dia mēndēngar pērkataanku tadi, mēlihat dia yang sēdang mēnērawang aku bērpikir mēngapa juga harus bēsok-bēsok, mēngapa nggak sēkarang aja sēlagi ada pēluang. Kudēkati dia dan kupēgang tangannya, tērsēntak juga dia dari lamunannya sambil mēnatap kēarahku pēnuh tanda tanya. Kudēkatkan mukaku kē mukanya dan kukēcup pipi Dibagian kanannya, dia diam tidak bērēaksi. Ku kēcup bibirnya, dia mēnarik napas dalam ēntah apa yang ada dipikirannya dan tētap diam, kulanjutkan mēncium hidungnya dan dia mēmējamkan mata. tērbukti napsu sudah mēnggērogoti kēpalaku, kulumat bibirnya yang tipis dan tērbukti dia mēmbalas lumatanku, bibir kami saling bērpagut dan kulihat dia bēgitu mērēsapi dan mēnikmati adēgan itu. Kutarik tangannya untuk duduk diDibagianku di sofa yang lēbih panjang, dia cuma mēngikuti sambil mēnatapku. Kēmbali kulumat bibirnya, lagi, dia mēmbalasnya pēnuh sēmangat. posisi duduk sēpērti itu tanganku bisa mulai bēkērja dan bērgērilya. Kuraba bagian dwujudnya, dia justru bērgērak sēolah-olah mēnyodorkan dwujudnya untuk kukērjain. Kurēmas dwujudnya dari luar bajunya, tangan kirinya mēmbongkar kancing baju bagian atasnya kēmudian mēmbimbing tangan kananku untuk masuk didalam BHnya. Ya ampun bēnēr-bēnēr udah nggak tahan dia rupanya.

Kumēlēpaskan tangan dan bibirku dari tubuhnya, aku bērpindah posisi bērsandar pada pēgangan sofa tēmpatku duduk dan mēmbongkar kakiku lēbar-lēbar. Kutarik dia untuk duduk lakukan bēlaankangiku, dari bēlakang kubuka baju dan BHnya yang waktu itu sudah nēmpēl nggak karuan, kuciumi lēhēr bagian bēlakang Vivi dan tangan kiri kananku mēmēgang gunung di dwujudnya masing-masing satu, dia bērsandar kētubuhku sēpērti lēmas tidak mēmiliki tēnaga untuk mēnopang tubuhnya sēndiri dan mulai kurēmas buah dadanya sambil tērus kuciumi tēngkuknya. sēsudah cukup lama mērēmas buah dwujudnya tangan kiriku mulai bērpindah kē bawah mēnyusuri bagian pērutnya dan bērhēnti di tēngah sēlangkangannya, dia mēlēnguh waktu kuraba bagian itu.

Kusingkap roknya dan tanganku langsung masuk kē cēlana dalamnya, kutēmukan sēsuatu yang hangat- hangat lēmbab disana, sudah basah rupanya. Kutēkan klitorisnya jari tēngah tangan kiriku. “Ohh.. ēhh..” Aku sēmakin bērnapsu mēndēngar rintihannya dan kumasukkan jariku kē vaginanya, nada/suaranya sēmakin mēnjadi. Kukēluar masukkan jariku disana, tubuhnya sēmakin mēlēnting sēpērti batang plastik kēpanasan, tērus kukucēk-kucēk sēmakin cēpat tubuhnya lakukan gētaran mēnērima pērlakuanku. Dua puluh mēnit lamanya kulakukan itu dan akhirnya kēluar nada/suara dari mulutnya. “Udah dulu pak, aku nggak tahan pēngēn pipis.” “Jangan ditahan, biarkan aja lēpas.” “Aduh pak, nggak tahan, Vivi mau pipis .. ohh .. ahh.” Badannya sēmakin lakukan gētaran, dan akhirnya. “Ahh .. uhh.” Badannya mēngējang bēbērapa waktu sēbēlum akhirnya dia lunglai bērsēndēr kē dadaku. “Gimana Vi tērasa?” “ēnak pak.” Kulihat air matanya bērlinang. “mēngapa kamu mēnangis Vi.”

Dia diam tidak mēnyahut. “Kamu nyēsēl udah mēlakukan ini?” tanyaku. “Bukan pak.” “Lantas?” “Aku bahagia, akhirnya aku mēmpērolēh apa yang aku idam- idamkan sēlama ini yang sēmēstinya datang dari suami aku.” “Oh bēgitu.” Kami saling tērdiam bēbērapa waktu sampai aku lupa bahwa jari tēngah tangan kiriku masih bērsarang didalam vaginanya dan aku cabut pērlahan, dia mēnggēliat waktu kutarik jari tanganku, dan aku masih tērcēnung kata-kata tērakhir yang tērlontar dari mulutnya, bēnar rupanya .. dia bēlum pērnah mērasakan orgasmē. “Mau kē kamar mandi pak?” Tiba-tiba nada/suara itu mēnyadarkanku dari lamunan .. “Oh ya, Dibagian mana kamar mandinya?” “Dibagian sini pak”, sahutnya sambil tunjukkan jalan mēnuju kamar mandi. Dia kēmbali kē ruang tamu tatkala aku mēncuci bagian tangan yang tadi sudah mēlaksanakan tugas sēbagai sēorang laki-laki kēpada sēorang wanita.

Tak habisnya aku bērpikir, mēngapa orang bērumah tangga sudah sēkian lama tapi si wanita baru mēngalami orgasmē satu kali saja dan itupun bukan olēh suaminya. Sēlēsai dari kamar mandi aku kēmbali kē ruang tamu dan kutēmukan dia sēdang mēlihat acara di tēlēvisi, tapi kulihat dari mukanya sēakan pikirannya sēdang mēnērawang, ēntah apa yang ada dalam pikirannya waktu itu. “Vi, udah malam nih, saya pulang dulu ya ..” Tērhēnyak dia dan mēnatapku .. “ēmm, pak, mau nggak malam ini nēmanin Vivi?” Kagēt juga aku mēnērima pērtanyaan sēpērti itu gara-gara mēmang tidak pikiran untuk mēnginap dirumahnya malam ini, tapi aku tidak mau mēmbuat kēcēwa dia yang mēminta muka mēngharap. “Waktu kan masih banyak, bēsok kita kētēmu lagi di kantor, dan kapan- kapan kita masih bisa kētēmu diluar kantor.” Dia bērdiri dan mēnghampiriku .. “Tērima kasih ya pak, Vivi amat bahagia malam ini, saya harap bapak tidak bosan mēnēmani saya.” “Kita kan kēnal sudah lama, saya sēnantiasa bērsēdia untuk mēnolong kamu dalam hal sērta apa pun.” “Sēkali lagi tērima kasih, bolēh kalau mau pulang sēkarang dan tolong sampaikan salam saya buat ibu.” Akhirnya aku pulang tērus dihinggapi pērtanyaan didalam pikiranku, mēngapa dia bisa bēgitu, kasihan sēkali dia. Baca Selengkapnya

Cerita Dewasa Dasar Maniak Selingkuh untuk lengkapnya silahkan kunjungi juga bizzar.biz juga menanyangkan situs bokep asli Indonesia dan manca negara .terima kasih sudah mengunjungi situs kami. Baca Juga

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Dewasa Dasar Maniak Selingkuh

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.