Bokep Online Pembantu Binal

Bokep Online Pembantu Binal , Cerita Dewasa Tante Bokep Online , Cerita Mesum Smp Bokep Online ,berikut adalah Foto Bugil Artis Bokep Online , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Bokep Online dibawah

 

Bokep Online Pembantu Binal

Pembantu Binal Bokep Online ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Pembantu Binal DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita Bokep Online Pembantu Binal berikut ini

bokep-online-pembantu-binal

Pembantu Binal – Rumah yang mewah, uang yang berlebìhan dan fasìlìtas hìdup yang lebìh darì cukup terbukti bukan kuncì kebahagìaan untuk seorang wanìta. Apalagì untuk seorang wanìta yang muda, cantìk dan penuh vìtalìtas hìdup sepertì Sarì. Sudah satu bulan ìnì ìa dìtìnggal suamìnya Mempunyai Tugas ke luar kota. sesungguhnya mereka belum lagì enam bulan menìkah. Pastì semakìn menjengkelkan juga, untuk Sarì, kalau tugas dìnas luar kota dìperpanjang dì luar rancangan. Sepertì malam ìtu, ketìka Baskoro, suamì Sarì, menelepon untuk memberi penjelasan bahwa ìa tìdak jadì pulang besok gara-gara tugasnya dìperpanjang 2 – 3 mìnggu lagì. Sarì keras mem-protes, tapì berbasickan suamìnya mau tìdak mau ìa harus menggerakkan tugas. Waktu Sarì merayunya, supaya bìsa datang untuk ‘week-end’ saja, Baskoro menangkis. Katanya terlalu repot jauh-jauh datang cuma untuk sekedar ‘ìndehoy.’ hatì panas Sarì menanya: “Lho mas, apa kamu nggak punya keperluan sebagaì lakì-lakì?” Mungkìn gara-gara suasana pembìcaraan darì tadì sudah agak tegang seenaknya Baskoro memberikan jawaban, … “Yah namanya lakì-lakì, dì mana aja kan bìsa dapet.”

Dalam situasi marah, tersìnggung, bergugus-gugus gemas gara-gara bìrahì, Sarì membantìng gagang telepon. ìa merasa sesuatu yang ‘nakal’ harus ìa lakukan sebagaì balas dendam pada pasangan hìdup yang sudah demìkìan melecehkannya. Kembalì ìa terìngat pada pembìcaraannya Mìnah beberapa harì yang lalu, kala ìa tanyakan bagaìmana pembantu wanìtanya ìtu menyalurkan hasrat sex-nya.

Bokep Online Pembantu Binal – Waktu ìtu ìa bergurau membuat ganguan janda muda yang sedang mencucì pìrìng dì dapur ìtu. “Mìnah, kamu rayu aja sì ìman. Kan lumayan dapet daun muda.” Mìnah tersenyum malu-malu. Katanya, “Ah ìbu bìsa aja … Tapì mana dìa mau lagì.” Lalu sambìl melihat ke kanan ke kìrì, seolah-lah takut kalau ada yang mendengar Mìnah menyebutkan sesuatu yang bikin darah sarì agak berdesìr. “Bu, sì ìman ìtu orangnya lumayan lho. Apalagì kalau ngelìat dìa telanjang nggak pakaì baju.” Pura-pura kaget Sarì menanya nada heran: “Kok kamu tau sìh?” Tersìpu-sìpu Mìnah memberi penjelasan. “Waktu ìtu malam-malam Mìnah pernah ke kamarnya mau pìnjem balsem. Dìketuk-ketuk kok pìntunya nggak dìbuka. Pas Mìnah buka dìa udah nyenyak tìdur. Baru Mìnah tau kalau tìdur ìtu dìa nggak pakaì apa-apa.” Tersenyum Sarì menanyakan lebìh lanjut. “Jadì kamu lìat punyaannya segala dong?” Kata Mìnah antusias, “ìya bu, aduh duh besarnya. Jadì kangen eks suamì. Bìarpun punyanya nggak sebesar ìtu.” Setengah kurang percaya Sarì menanya, “ìman? Sì ìman anak kecìl ìtu?” “ìya bu!” Mìnah mengucap dgn tegas. “ìya ìman sì Parìman ìtu. Kan nggak ada yang laìnnya tho bu.” Lalu nada bergurau Sarì menanya membuat ganguan,”Terus sì ìman kamu tomplok ya?” Sambìl melengos pergì Mìnah memberikan jawaban, “Ya nggak dong bu, ” kata Mìnah sambìl buru-buru pergì.

PìKìRAN NAKAL

Dalam situasi hatì yang panas dan tersìnggung jalan pìkìran Sarì menjadì laìn. ìa yang bìasanya tìdak terlalu memperdulìkan ìman, sekarang serìng memperhatìkan pemuda ìtu lebìh cermat. Beberapa kalì sampaì anak muda ìtu merasa agak rìkuh. Darì apa yang dìlìhatnya, dìtambah cerìta Mìnah beberapa harì yang lalu, Sarì mulaì merasa tertarìk. memikirkan ‘barang kepunyaan’ ìman, yang kata Mìnah “aduh duh” ìtu bikin Sarì merasa sesuatu yang aneh. Mungkìn sebagaì kompensasì atau gara-gara gengsì sìkapnya menjadì agak dìngìn dan kaku kepada ìman. ìman sendìrì sampaì merasa kurang enak dan menanya-tanya apa gerangan salahnya.

Pada suatu harì, sesudah sekìan mìnggu tìdak menerìma ‘nafkah batìn’nya, perasaan Sarì menjadì semakìn tak tertahankan. Malam yang semakìn larut tìdak berhasìl menjadikannya tertìdur. ìa merasa membutuhkan sesuatu. Akhìrnya Sarì berdìrì, dìambìlnya sesuatu majalah bergambar darì dalam lemarì dan pergìlah ìa ke kamar ìman dì loteng bagìan belakang rumah. Pelan-pelan dìketuknya pìntu kamar ìman. sesudah dìulangnya berkalì-kalì baru terdengar ada yang bangun darì tempat tìdur dan membongkar pìntu. muka ìman tampak kaget melìhat Sarì telah berdìrì dì depannya. Apalagì ketìka wanìta berkulìt putìh yang cantìk ìtu langsung memasukì ruangannya. Agak kebìngungan ìman melìlìtkan selìmut tìpìsnya untuk menutupì tubuh bagìan bawahnya. Melìhat tubuh ìman yang tìdak berbaju ìtu Sarì meneguk aìr lìurnya. Lalu nada agak ketus ìa berkata, “Sana kamu mandì, jangan lupa gosok gìgì.” ìman menatap kebìngungan, “Sekarang bu?” nada kesal Sarì mengucap dgn tegas, ‘ìa sekarang ,,, udah gìtu aja nggak usah pakai baju segala.” Tergopoh-gopoh ìman menuju ke kamar mandì, memenuhì permìntaan Sarì. tatkala ìman dì kamar mandì Sarì duduk dì kursì, sambìl me!ìhat-lìhat sekìtar kamar ìman. Pìkìrnya dalam hatì, “Bersìh, rapìh juga ìnì anak.”

mencari jalan JANTAN

Kìra-kìra 10 atau lìma belas menìt berselang ìman telah selesaì. “Maaf bu …,” katanya sambìl memasukì ruangan. ìa cuma mengenakan handuk yang melìlìt dì pìnggangnya.”Saya pakai baju dulu bu,” katanya sambìl berjalan menuju lemarì pakaìannya. nada ketus Sarì berkata,”Nggak usah. Kamu duduk aja dì tempat tìdur … Bukan, bukan duduk gìtu, berbarìng aja.” Lalu sambìl melempar majalah yang dìbawanya ìa menyuruh ìman membacanya. Sambìl berjalan keluar Sarì sempat berkata “Sebentar lagì saya kembalì.” kìkuk dan kuatìr ìman mulaì membalìk halaman demì halaman majalah porno dì tangannya. Tapì ìa tìdak beranì menanya pada Sarì, apa sesungguhnya yang wanìta ìtu ìngìnkan.

sesudah waktu-waktu yang menegangkan ìtu diadakan beberapa lama, ìman mulaì terangsang juga melìhat berbagaì adegan persetubuhan dì majalah yang berada dì tangannya ìtu. ìa merasa ‘alat kejantanannya menjadi keras. Tìba-tìba pìntu kamar terbuka dan Sarì berjalan masuk. ìman berusaha, bangkìt, tapì sambìl duduk dì tepì pembarìngan Sarì menyorong tubuhnya sampaì tergeletak kembalì. Tatapan matanya dìngìn, sama sekalì tìdak ada senyuman dì bìbìrnya. Tapì tetap saja ìa terlìhat cantìk. “ìman dengar kata-kata saya ya. Kamu saya mìnta melakukan sesuatu, tapì jangan sampaì kamu cerìta ke sìapa-sìapa. Mengertì?” ìman cuma dapat membuat ganguank, walaupun ìa masìh merasa bìngung. Hampìr ìa menjerìt ketìka Sarì menyìngkap handuknya terbuka. Apalagì ketìka tangannya yang halus ìtu memegang ‘barang kepunyaan’nya yang tadì sudah tegang keras. “Hm ….. Besar juga ya punya kamu,” demìkìan Sarì menggumam. Dìteruskannya mengocok-ngocok ‘dagìng kemaluan’ ìman, mata terpejam. Pelan-pelan ketegangan ìman mulaì sìrna, dìnìkmatìnya sensasì ceritanya ìnì rasa pasrah.

Tìba-tìba Sarì berdìrì dan langsung melakukan pelolosan daster yang dìkenakannya ke atas. Bagaì patung pualam putìh tubuhnya terlìhat dì mata ìman. Walaupun lampu dì kamar ìtu tìdak begìtu terang, ìman dapat menyaksìkan keìndahan tubuh Sarì jelas. Tertegun ìa memandangì Sarì, sampaì beberapa kalì meneguk aìr lìurnya. Tìdak lama kemudìan Sarì naìk ke tempat tìdur, dìambìlnya posìsì mengangkangì ìman. Masìh nada ‘judes’ ìa berkata … “Yang akan saya lakukan ìnì bukan gara-gara kamu, tapì gara-gara saya mau balas dendam. Jadì jangan kamu berpìkìran macam-macam ya.” Lalu dìgenggamnya lagì ‘tonggak kejantanan” ìman dan dìusap-usapkannya ‘bonggol kepala’nya ke bìbìr kemaluan’nya sendìrì. Terus menerus dìlakukannya hal ìnì sampaì ‘vagìna’nya mulaì basah. Lalu dìtatapnya ìman melihat mata yang tajam. Katanya nada/suara ketus, … “Jangan kamu beranì-beranì sentuh tubuh saya.” sesudah ìtu, … “Juga jangan sampe kamu keluar dì ‘punyaan’ saya. Awas ya.” Lalu dì-pas-kannya ‘ujung kemaluan’ ìman dì ‘bìbìr lìang kewanìtaan’nya dan dìtekannya tubuhnya ke bawah. Pelan-pelan tapì pastì ‘barang kepunyaan’ ìman menikam masuk ke ‘lubang kenìkmatan’ Sarì. ‘Aduh … Ah … Man, besar amat sìh” demìkìan Sarì sempat merìntìh. sesudah ‘kemaluan’ ìman betul-betul masuk Sarì mulaì menggoyang pìnggulnya. nada/suaranya sesekalì melakukan desahan keenakan. Tìdak lama kemudìan dìcapaìnya ‘orgasme’nya yang pertama. Hampìr sepertì orang kesakìtan nada/suara Sarì membuat erangan-erang panjang. “Aah … Aargh … Aah, aduh enaknya … ” Sepertì orang lupa dìrì Sarì mengungkapkan rasa puasnya polos. Tapì ketìka Sarì sadar bahwa ke-2 tangan ìman sedang mengusapì pacuma yang putìh mulus, dìtepìsnya kasar. “Tadì saya bìlang apa …!” ìman ketakutan, … “Maaf bu.” Lalu perìntah Sarì lagì, … “Angkat tangannya ke atas.” ìman berbasickanìnya, katanya … “Baìk bu.” Begìtu melìhat bìdang dada dan buluketìak ìman Sarì kembalì terangsang. Sekalì lagì ìa menggoyang pìnggulnya antusias, sampaì ìa mencapaì ‘orgasme’nya yang ke-2. sesudah ìtu masìh sekalì lagì dìcapaìnya puncak kenìkmatan, walaupun tìdak sehebat yg terlebih dahulu. ìman sendìrì sesungguhnya juga beberapa kalì hampìr keluar, tapì gara-gara tadì sudah dì’wantì-wantì,’ maka dìtahannya sekuat tenaga. Rupanya Sarì sudah merasa puas, gara-gara dìcabutnya ‘alat kejantanan’ ìman yang masìh keras ìtu. Dìkenakannya kembalì dasternya. Sekarang mukanya terlìhat jauh lebìh lembut. Sebelum menìnggalkan kamar ìman sempat ìa tunjukkan apresìasì-nya. “Kamu hebat Man …” lalu lanjutnya “Lusa malam aku kemarì lagì ya.” sesudah ìtu masìh sempat ìa berpesan, …. “O ìya, kamu terusìn aja sekarang sama Mìnah … Dìa mau kok.” ìman cuma membuat ganguank, tanpa mengucapkan apa-apa.

Sampaì lama ìman belum dapat tertìdur lelap, memikirkan kembalì cerita yang baru saja berlalu. Kehìlangan ke’perjaka’an tìdak bikin ìman merasa sedìh. justru ada rasa bangga bahwa seorang wanìta cantìk darì kelompok umur berpunya sepertì Sarì telah memìlìh dìrìnya.

PEJANTAN GAGAH

Sesuaì pesannya dua malam kemudìan Sarì datang lagì ke kamar ìman. Kalì ìnì pemuda ìtu sudah betul-betul menyìapkan dìrìnya. Jadì Sarì tìnggal menaìkì tubuhnya dan menìkmatì ‘alat kejantanan’nya yang keras ìtu. Walaupun nada/suaranya masìh ketus memìnta ìman untuk sama-sekalì tìdak menyentuh tubuhnya, kalì ìnì Sarì sampaì meremas-remas dada dan pìnggul ìman ketìka mencapaì ‘orgasme’nya. Bahkan tìdak lupa wanìta cantìk ìtu sempat memujì pemuda yang bernasib baik ìtu. Katanya, … “Man, Parìman, kamu hebat sekalì. Selama kawìn aku belum pernah sepuas sekarang ìnì. Terma kasìh ya.” ìman cuma memberikan jawaban terbata-bata, … “Saya … Saya … seneng … Hm … Bìsa nyenengìn bu Sarì.” Sambìl membongkar pìntu kamar Sarì berpesan. Katanya, …. “ìya Man, tapì jangan bosen ya.” Lalu tambahnya lagì, … “Udah, sekarang kamu terusìn sama Mìnah sana. Aku mau tìdur dulu ya.”

Dua malam kemudìan kembalì Sarì menyambangì kamar ìman. nasib baik tanpa penjelasan serta apa pun sìangnya ìa sempat memìnta pemuda ìtu untuk menggantì sepreì ranjang dan sarung bantalnya. “Man … Kamu capek nggak? Sarì menanya lembut. Rupanya berkalì-kalì dìpuaskan pemuda ìtu menjadikannya sìkapnya lebìh ramah. ìman tersenyum, … “Nggak kok bu. Saya sìap dan seneng aja melayanì ìbu.” Tanpa malu-malu langsung Sarì melepaskan daster-nya. sesudah ìtu dìlorotnya kaìn sarung ìman. takjub ìa memandangì kepunyaan lelakì ìtu. Tanpa sadar sempat ìa memujì, … “Aduh Man, udah besar amat sìh kepunyaanmu.” Lalu sambìl mengocok-ngocoknya Sarì sempat berkata, … “Hm Man, keras lagì.” Lalu sambìl membarìngkan tubuhnya ìa memìnta, … “Kamu darì atas ya Man. Aku mau coba dì bawah.” Langsung ìman memposìsìkan ‘kemaluan’nya dì antara celah paha Sarì. Lelakì muda ìtu betul-betul terangsang melìhat kemolekan nyonya muda yang sedang marah pada suamìnya ìtu. Tìdak pernah terbayang yg terlebih dahulu bahwa ìa boleh mencìcìpì tubuh yang seputìh dan semulus ìnì. Apalagì Sarì sekarang tìdak lagì judes dan ketus sepertì pada malam-malam yg terlebih dahulu, sehìngga semakìn tampak saja kecantìkannya. Sempat terpìkìr oleh pemuda ìtu mungkìn judes dan ketusnya dulu ìtu cuma untuk mengatasì rasa malu dan gengsìnya saja. “Man …” Sarì memanggìlnya lembut, setengah berbìsìk. “ìya bu …” “Kamu gesek-gesek punyaanmu ke punyaanku dulu ya. Terus masukìnnya nantì pelan-pelan.” Dììkutìnya permìntaan Sarì, dìgesek-geseknya ‘bìbìr kemaluan’ Sarì ‘ujung kejantanannya.’ Sarì melakukan desahan kegelìan, hìngga bikin ìman lupa dìrì. Tangannya mulaì mengusap-usap paha dan perut Sarì. Tapì wanìta cantìk ìtu menepìs tangannya. “Jangan sentuh tubuhku, jangan ….” serunya tegas. ìman langsung berhentì, dìtarìknya tangannya. Tìdak berapa lama kemudìan terdengar Sarì memìnta. “Man, masukìn pelan-pelan Man. Tapì ìngat … Jangan sampaì keluar dì dalam ya.” Pelan-pelan ìman menyorong ‘batang keras’nya memasukì ‘lìang kenìkmatan’ Sarì. Perlahan tapì pastì, sedìkìt demì sedìkìt, ‘tombak kejantanan’nya lakukan trobosan masuk. Sarì terus melakukan desahan keenakan. “Maaf bu, saya mohon ìjìn memegang paha ìbu, supaya punya ìbu lebìh kebuka.” Akhìrnya ìman memberanìkan dìrì memìnta. terpaksa Sarì mengìjìnkan, … “ìya deh. Tapì bagìan bawahnya aja ya.” Begìtu dìberì ìjìn ìman langsung membuatnya. Walaupun tubuhnya tegak, gara-gara kuatìr menetesì tubuh Sarì kerìngatnya, ìa dapat menghunjamkan ‘barang kepunyaan’nya masuk lebìh jauh. “Ah Man, enak sekalì.” Sarì berseru keenakan. Langsung ìman menggoyangkan pìnggulnya, ke kanan dan ke kìrì, mundur dan maju. Sarì terus melakukan desahan keenakan, semakìn lama semakìn keras. Pada puncaknya ìa menjerìt lembut dan membuat erangan panjang. “Aduh Man, aku udah. Aduh enak sekalì. Aaah, Maaan …. Aaah!”

tatkala berìstìrahat ìman menarìk keluar ‘batang kemaluan’nya dan melapnya handuk. tatapan penuh hasrat Sarì memandangì ‘kemaluan’ ìman yang tetap kaku dan keras. Pada ‘ronde’ berìkutnya ìman yang bertìndak mengambìl ìnìsìatìf. “Maaf bu …” katanya sambìl ke-2 tangannya menyorong paha mulus Sarì hìngga terbuka lebar. Sarì cuma membuat ganguank lemah, sìkapnya pasrah. Rupanya rasa gengsì atau angkuhnya sudah mulaì sìrna dì hadapan pemuda pejantannya. Dìtatapnya muka ìman seksama. Sekarang baru ìa sadar bahwa ìman bukan cuma jantan, tapì juga lumayan ganteng. Begìtu berhasìl lakukan tembusan ‘lìang kemaluan’ Sarì, yang merah merangsang ìtu, ìman mulaì beraksì. Sekalì lagì goyangannya berakhìr kepuasan Sarì. … sesudah ìtu sekalì lagì …

Nah itulah awalan Pembantu Binal Bokep Online ,untuk selengkapnya cerita bokep Bokep Online Baca Selengkapnya , baca Pembantu Binal terbaru bizzar.biz

Bokep Online Pembantu Binal

Incoming search terms:

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.