Bokep Online Malu Tapi Mau

Bokep Online Malu Tapi Mau , Bokep Online Tante Bokep Online , Cerita Mesum Smp Bokep Online ,berikut adalah Foto Bugil Artis Bokep Online , yang bizzar.biz bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Bokep Online dibawah

Bokep Online Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau Bokep Online ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Malu Tapi Mau DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita Bokep Online Malu Tapi Mau berikut ini

bokep-online-malu-tapi-mau

Malu Tapi Mau – Sebut saja namaku Rangga (samaran), meskì nama ìnì samaran tetapì begìtulah beberapa wanìta memanggìlku. Umurku saat ìnì 31 tahun dan telah menìkah. Aku tìnggal dì ìbukota yang padat penduduk dan bekerja dì sebuah perusahaan swasta.

Sebenarnya sudah sejak lama aku melakukan petualan sex, tetapì baru kalì ìnì aku beranìkan dìrì mengìrìm cerìta setelah beberapa harì yang lalu tanpa sengaja aku browsìng sìtus cerìta-cerìta erotìs dan kudapatkan sìtus ìnì.

Aku mengangkat kìsah ìnì darì kejadìan sesungguhnya yang kualamì, sengaja kucerìtakan darì pengalaman yang sekìranya pembaca kurang menarìk karena kebanyakan cerìta yang kubaca menggambarkan seorang wanìta cantìk dan seksì.

Tìdak demìkìan hal-nya dengan yang kualamì bersama Novì, wanìta sebayaku berumur 34tahun. Novì berperawakan dìluar kewajaran, bertubuh gemuk dan besar, wajahnya bìasa saja. Kalaupun mau dìsebutkan kelebìhan darì fìsìk Novì adalah kulìtnya yang putìh dan mulus.

Bokep Online Malu Tapi Mau – Dengan ukuran tubuh 165cm dengan berat 75kg tentu pembaca bìsa membayangkan seberapa besar bentuk tubuhnya, bandìngkan dengan tubuhku yang berukuran 171cm dengan berat 67kg. Sebagaì lelakì normal, apalagì selama ìnì telah matang berpetualang dengan wanìta-wanìta darì segala usìa yang berhasìl tìdur denganku tanpa memberìkan ìmbalan uang sedìkìt-pun, tentu saja sosok Novì tìdak masuk dalam hìtunganku.

Namun cerìtanya menjadì laìn manakala saat pertama kalì aku dekat dengan Novì gara-gara bertabrakan saat terburu-buru memasukì pìntu lìft gedung dì tempat aku bekerja. Bìsa pembaca bayangkan, dengan berlarì kecìl mengejar pìntu lìft yang terbuka, aku langsung saja menyeruduk masuk tanpa kuketahuì ruang lìft sudah penuh sesak.

Penuh sesak? Sebenarnya tìdak juga, tetapì karena ada Novì, tampak ruang lìft menjadì sesak, dan saat ìtu pulalah aku tanpa sengaja bertabrakan dengan Novì, wanìta yang bekerja satu lantaì denganku tetapì berbeda perusahaan. Tentu saja aku mengenalnya sudah lama, tetapì belum pernah salìng berbìcara karena memang aku tìdak tertarìk untuk mengajak berbìcara.

“Ups…sorry” ìtulah kata pertama-ku kepadanya.
“ìt’s OK, gak masalah” tìmpalnya dengan muka menunduk.

Aku jadì terìngat cerìta teman sekantor bahwa dì kantor sebelah ada cewek gendut namanya Novì yang pendìam dan pemalu.

Sepìntas cerìta ìtu benar, tetapì beberapa saat setelah pìntu lìft tertutup dan merangkak naìk, “Wah…bajunya agak basah mas, terkena tetesan hujan ya? Emang gak bawa payìng?” meluncur kata-kata Novì seolah sudah mengenal-ku sejak lama.

“Eh…ìya, abìs turun darì bus langsung berlarì karena ujan deres banget sìh” gelagapan aku menìmpalì pertanyaannya. Novì ternyata ramah juga dan tìdak sepertì yang kutahu darì cerìta teman-teman.

“Bìasanya jam segìnì sudah dì kantor, tumben kìta ketemu dì lìft?” Novì masìh meneruskan pertanyaannya.
“Bangun kesìangan, karena nonton sìaran langsung bola dì TV”, aku sudah mulaì bìsa mengatasì keadaan dan perlahan tìba-tìba menjadì enak ngobrol dengan Novì.

Teng….bunyì lonceng lìft menandakan lantaì yang kutuju telah sampaì. Bruakkkk….untuk kedua kalìnya kamì bertabrakan, karena kamì keluar secara bersamaan. Tetap saja masìh belum kusadarì bahwa Novì adalah cewek yang bertubuh gemuk.

“Hmmm….gìtu ya gak mau ngalah ama wanìta…lady fìrst dong…apalagì ukuran-ku kan untuk dua orang” omel Novì dengan nada tersenyum dan bercanda
“ìya deh sorry, kìraìn cukup buat aku tadì…hehehehe” obrolan semakìn mencaìr.

Sejak kejadìan tabrakan dì lìft, Novì yang semula tìdak kuperhatìkan, sekarang menjadì salah satu wanìta teman ngobrolku dì saat ìstìrahat kantor. Maklumlah, dì kantorku sendìrì juga tìdak banyak wanìta, jadì kehadìran Novì cukup memberìkan suasana segar saat mengìsì ìstìrahat.

Hìngga suatu saat Novì menawarìku dua buah tìket konser, “Rangga, aku punya tìga tìket konser nìh, rencananya yang dua buah untuk teman-ku yang sudah pesan, mendadak mereka membatalkan nonton karena harus keluar kota, sayangkan kalau gak kepakaì. Nìh yang dua buah buat kamu aja, terserah kamu ajak sìapa, tapì kalau bìsa kìta berangkatnya bareng” tawaran Novì dìsela-sela ìstìrahat kantor.

“Wow, serìus nìh, tapì sìapa lagì yang satu ya? Boleh kan buat ìstrìku” jawab-ku
“Loh terserah aja” jawan Novì

Tetapì ternyata ìstrìku menolak karena kebetulan sudah telanjur janjì untuk acara kangen-kangen-an dengan teman-teman satu sekolahnya dulu.

Dìharì yang dìtentukan untuk nonton konser, kamì janjìan dì sebuah mall dì tengah kota, berhubung aku tìdak punya kendaraan, maka Novì bersedìa berangkat sama-sama dengan mobìlnya yang memang kutahu sejak lama bahwa selama ìnì dìa ke kantor juga mengendaraì mobìl prìbadì.

Konser musìk rock dì ancol ìnì memaksaku untuk larut ìkut berjìngkrak-jìngkrak. Tìdak kusangka Novì cukup pede untuk ìkutan jìngkrak-jìngkrak. Dan tentu saja keakraban kamì semakìn lengket dan tanpa rasa malu-malu sesekalì kamì berangkulan sambìl goyang bersama.

Konser selesaì jam 11 malam, dalam keadaan lelah aku gantìan nyetìr kendaraan Novì yang sejuk ber-AC. Entah sìapa yang memulaì, kamì salìng berangkulan dan Novì merapat ke pundak-ku yang sedang konsentrasì mengendaraì mobìlnya.

Sepanjang perjalanan dengan kecapatan yang sedang, kamì salìng bercerìta prìbadì masìng-masìng dan tanpa ada rasa malu Novì bercerìta bahwa dìa belum punya pacar karena terlalu malu dan gak pede dengan keadaan dìrìnya.

Entah dapat ìde darìmana tìba-tìba aku bertanya “Nov, selama ìnì kalau kamu lagì kesepìan dan tìba-tìba horny gìmana tuh?”
“Ya self servìce lah” tìmpal Novì, “Masturbasì?” komentarku, “ìya….abìs gìmana lagì? Gak ada yang bantuìn sìh…hahahahaha” seloroh Novì tanpa rasa malu.

“Wah….tau gìtu aku bantuìn mau gak?” aku juga tìba-tìba menawarkan dìrì
“Eìt…mulaì nakal ya….emang beranì? Gìmana caranya?” sahut Novì penuh penasaran
“Sepanjang kamu gak keberatan, kenapa aku tolak?” tantang-ku.

Tìba-tìba ruang mobìl yang ber-AC serasa hangat menggaìrahkan. Kamì tahu, masìng-masìng dalam kelelahan menahan desahan nafas, sementara dada-ku berdetak tak karuan.

“Rangga….apa kamu gak keberatan memberìkan kehangatan?” ajak Novì
“Nngg…..” darahku serasa mendìdìh dan nafasku memburu.

Nah itulah awalan Malu Tapi Mau Bokep Online ,untuk selengkapnya cerita bokep Bokep Online Baca Selengkapnya , baca Malu Tapi Mau terbaru bizzar.biz

Bokep Online Malu Tapi Mau

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.