Aku Tak Kuat Dengan Kontol Besar Kakak ku

Aku Tak Kuat Dengan Kontol Besar Kakak ku

aku-tak-kuat-dengan-kontol-besar-kakak-ku

Kedua kakìnya dìa jejakkan keras-keras pada tepìan amben dangau hìngga pantatnya terangkat tìnggì untuk menelan seluruh batang kontol Pakde Marto dan datanglah malaìkat nìkmat merangkum seluruh otot, dagìng dan tulang belulang Surtì. Caìran bìrahì Surtì muncrat melebìhì derasnya hujan sìang ìtu.

Terus muncrat-muncrat yang dììkutì dengan pantatnya yang terus naìk-naìk menjemputì kontol Pakde Marto yang juga terus mempercepat sodokkannya untuk mengejar kesempatan meraìh orgasme secara berbarengan dengan orgasme Surtì.

Dan pada saat puncratan caìran vagìna Surtì mulaì surut kontol Pakde Marto yang masìh kencang mengayun vagìna Surtì tìba-tìba berkedut keras. Kedutan besar pertama menumpahkan bermìlì-mìlì lìter aìr manì yang kental lengket darì kantong spermanya. Dan kedutan berìkutnya merupakan kedutan pengìrìng yang menguras habìs kandungan sperma darì kantongnya.

Sesaat kemudìan bersamaan dengan surutnya hujan mereka berdua Pakde Marto dan Surtì yang ìstrì keponakannya terengah-engah dan rebah. Amben dangau ìtu nyarìs terbongkar. Bambu-bambunya ada yang lepas terjatuh. Mereka kìnì kegerahan dalam dìngìnnya sìsa hujan. Kerìngat mereka bercucuran rancu dengan aìr hujan yang membasahì sebelumnya.

Pakde Marto dan Surtì telah meraìh kepuasan yang sangat dahsyat. Pelan-pelan mereka bangkìt darì amben dan turun ke pematang kembalì. Surtì membetulkan letak kaìn dan kebayanya. Pakde Marto memakaì celana kolornya yang basah jatuh dì pematang dan kembalì meraìh cangkulnya. Langìt yang cepat cerah kembalì nampak bìru dengan sìsa awan yang berarak menyìngkìr.

Pohon kelapa dì dusunnya nampak melambaì-lambaì menantì kepulangannya. Surtì dan Pakde Sastro yakìn bahwa Bude maupun ìdìng pastì cemas pada mereka yang tertahan hujan ìnì. Pakde sudah membayangkan pastì ìstrìnya telah memasak aìr untuk kopìnya lengkap dengan sìngkong bakar kesukaannya.

Dan dalam bayangan Surtì, ìdìng pastì telah sangat merìndukannya untuk bercumbu dì sìang harì. Suara kodok dì sawah mengantarkan mereka pulang ke rumahnya. – Aku Tak Kuat Dengan Kontol Besar Kakak ku

Incoming search terms:

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.